Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Dengan pucuk-pucuk daun teh yang kini telah mewarna dan mengharumkan cangkir mungil,

Tersenyum mengeja tanyamu untuk kesekian kali tanyamu masih menggelitik hati,

Tentang apa yang akan engkau bawa sebagai buah tangan Dan tanda cinta,

Walau tiada terbukanya tanyamu langsung dari ujung ke ujung kisah yang kau bagikan waktu itu,

Meniti mata hingga ke hati tanpa berlari menggapai maksud dan pengertian sebagai lemparan terjauh menautkan pilihan,

Tidak perlu memberatkan dengan menyelipkan buku tebal yang kau ceritakan meskipun banyak berisi kejutan tentang kisah dari karya-karya monumental tempat itu....,

Tidak usah menambah beban bawaan dengan memborong koleksi boneka-boneka cantik dari tempat yang jauh itu,

Jangan pula membelanjakan segala macam pakaian seksi yang akan membuat berat karena berbagai alat tak mungkin kau serahkan begitu saja kepada setiap kerabat atau teman dekat saat mereka pun kini sedang harus cepat merapat,

Meniti mata hingga ke hati tanpa berlari menggapai maksud dan pengertian sebagai lemparan terjauh menautkan pilihan,

Tidak perlu memberatkan dengan menyelipkan buku tebal yang kau ceritakan meskipun banyak berisi kejutan tentang kisah dari karya-karya monumental tempat itu....,

Tidak usah menambah beban bawaan dengan memborong koleksi boneka-boneka cantik dari tempat yang jauh itu,

Jangan pula membelanjakan segala macam pakaian seksi yang akan membuat berat karena berbagai alat tak mungkin kau serahkan begitu saja kepada setiap kerabat atau teman dekat saat mereka pun kini sedang harus cepat merapat,


Lalu yang kupinta buatmu tiada lain adalah kelancaranmu hingga sampai sesuai rencana, begitu saja sementara jika ingin tahu saat ini akan apa yang kuharap...

Duduk sesaat usai lewati 

Muda mudi ramai berbaris

Gigi tetap  , permen karet 


Setengah  empat itu belum gelap

CapeA, k spontan jadi tersadar 

Jam mengingatkan sepesan menu 

Agar malam tetap. Terisi..

Lalu mengapa 

Kau berikan minuman sekental dahak yang katamu bisa usir haus, ogah!

Memandangnya  tidak  ubahnya melihat semburan liur ^O^    


@@@ siang ini adalah siangnya
tanpa perlu sedikit bukti buatmu 
kubawa cerita tentang seekor kutu 
Ia yang menghinggapi ekor kuda liar 
lancang larinya kencang 
berdaya menerjang licinya jurang
demi apa dipertanyakan 
menjadikan tunggang langgang 
andaikan terbersit hasrat mengejar ...
tidak baginya 
tidak bagia dia yang berada 
ditengah rimbun ekornya...
kemana saja arah larinya 
kesana ia juga tetap berada 
tiada perlu baginya 
menghitung kecepatan 
pembawa dirinya....
🐎🐽🐪🐖☘🐡🐚🦄




 

 

Harga sudah dipandang pas
Tidak lama lalu ia bergegas
Terlalu kecil jika dengan satu alas
Sebagai cara membuang rasa malas 
Maunya menancapkan tujuan di tempat harga berkelas 
Sebuah dari bermacamnya tujuan yang pernah  dibahas 
Tahu akan sSulitnya mencari cara mengejar waktu...
Lalu ketika pagi telah membangunkannya juga seraya memberikan hal lain hingga membuka bahwa tidak hanya satu jalan yang pantas buat dilalui, untuk sampai kesana, hal kecil ini bagai membuatnya menghirup angin segar yang dapat menembus pagar kebuntuan cara....
😗
Seiring berjalannya semua bagian demi bagian langkah....
Perhitungan akan besaran tenaga kuda yang nyata dibutuhkan
kembali dipertanyakan dalam benaknya... beberapa kali
Apa yang diajukan itu seperti bertanya, terkadang seperti meminta
Pena yang terselip ditelinganya sesegera diambil, hingga tanpa berlama lagi
ditandainya dengan beberapa centang juga beberapa silang dan tidak kurang bentuk lain seolah ia menanda akan satu hal demi hal lainnya dengan tanda-tanda agar membuatnya mengingat, memudahkan bagaimana ia ingin mengingat akan semua bagian itu....

Tekstur yang telah mencuat pada masa seperti ini bagi setiap mata bertatap telah semakin mengundang giur.... Bagian terkeras telah tercerabut sebagian demi sebagian sampai tiada luput yang terhalus pun telah turut, ketika pilihan menarik dirinya telah tiba memasuki dalamnya rimba hati tanpa nafsu dan bara akan menyulut, membiarkan dinginya setiap kedatangan hembusan menggerayangi seluruh permukaan tiada sekat kecuali sisa halusnya bulu tanpa arti lagi menyelimuti setiap bagian tubuhnya....

Seolah seutuhnya telah lembut dan memudah untuk dipagut memenuhkan ronta lambung liar menyanyi girang memandang termudahnya menggapai mangsa, kenyal dan manis gurihnya akan tambahan sinyal amisnya telah semudah digapai tanpa perlawanan tatkala ujung tertajam pagaran dirinya telah dipatahkan lewat waktu yang telah lama mengajar dalam pelarian panjangnya, tiada yang dapat dia tunggangi untuk berlari kecuali ranting terjauh menurut dirinya sebagai jurus tersisa ruang sembunyi tanpa mampu mengerti perubahan yang akan terjadi lagi....

Apa yang dapat dirasa kini tiada lagi sama, jangkau pemandangan tiada daya berbanding dengan penguasa waskita langit berpranala semakin tanpa batas mengenduskan telisik disemua sudut rimba sunyi ini, semua seolah tetap berada disana diam bersamanya, ruang menyempitkan geraknya mendapatkan apa pun yang tergapai gerakan kecil sebatas membasahi permukaan dan ruang cernanya,

Semua keutuhan bentuk tidak muncul seketika, ia telah lampaui kesekian kali untuk dirinya juga pendahulunya tanpa memanjangkan risau diri juga dambanya seluruh penghuni, tanpa mengerti keadaan demikian kecuali ketika ia telah kembali pada...

...

Ketika pertanda kehidupan masih mengelilingi, apa yang baginya merisaukan karena lewati arus tanpa hitungan barisan yang membangkai telah pula membuatnya tetap bertahan,.. memandang segala bergantinya pemburu jaman penuh pemutakhiran kini ia yang dipertanyakan keadaan setelah menghilangnya warna legam dirinya sebagai tameng lintas setiap savana dan sangar belukar hingga rawa-rawa ....  salah satu sudut rentang perantauannya tempatnya menggali sangat dalam menyimpan amarahnya terbesar dengan telah diremukkan dalam kepingan-kepingan  terkecil terangkut sebagai rapatnya muatan ditumbuhi jubalan muslihat para pembawa berlumur kuat tameng lumpur yang telah mengeras, ini tiada dalam duganya terendus atas nama kebetulan ..

Olahan pengalih tidak membuatnya berpaling dari kenyataan itu, ia memilih tanpa sepatah kata menghempaskan diri meninggi semakin jauh merasakan lengkap tumbuhnya kelebatan setiap jengkal lahan yang telah terwariskan dinampakkan kembali ketika ia membuka mata pada letak tertingginya kepakan sepasang kebanggaan miliknya dapat berada sebagaimana ia tetap memiliki arti keperkasaan yang telah disematkan.


Mengapa ia berada di sana 

Lihat ia! Berdiam diantaranya...

Nanti atau kapan ia akan beranjak

Dari tempat itu menuju suatu tempat terbaiknya...

Mungkin tidak di hutan asalnya 

Mungkin juga tidak diranting pohon terbesar yang tumbuh di dalamnya ;

Tempat ia dapat membangun sarang untuk generasi penerusnya ;

Tiada akan keluar alasan yang terucap darinya,mengerti akan semua hutan moyangnya kini telah ditumbuhi pohon-pohon tinggi sekeras batu dan berlampu pada malam hari...

Ia bahkan memilih tempat dimana banyak orang tiada berhenti mencari segala macam pemenuh hasrat dengan segala alasan maslahat sampai aurat sering tidak terpisah dalam lingkaran tempat yang telah menjadi senawat.👥💋






Asal kamu tahu, bahwa semua yang terangkai dalam maksud hati ini tiada lain menangkap ketidakpastian yang melayang-layang sepanjang fajar menyingsing, bagai ingin merebut tempatnya sang kabut mencumbu dinginnya awal hari itu, agar sedikit dimengerti ketika ia berhenti; atau setidaknya membiarkan mata yang berkeinginan sempat buat mengeja akan macam apa engkau sebagai obyek dari belahan tempat entah berantah, tanpa mau berbicara apalagi berbantah dengan keadaan yang mungkin bagimu kau pandang statis.

Pernah ada sebagian kepala konon mencoba menganggapmu tidak lebih sebagai bagian pengancam jenjang laju lahan-lahan terbaiknya yang telah ditempuhnya berpuluh tahun hingga memutuskan menjauh karena tiada perlu atau penting lagi dengan adamu yang telah didatangkan oleh para pemikir semu namun seolah-olah telah menginjak-injak masanya.

Sebagaian wajah ingin memberikan senyuman, senyuman paling manis yang dapat dibuatnya dalam keadaan seperti ini, senyuman yang ingin mengatakan bahwasanya ia masih berdaya menyaksikan semua itu, meskipun tidak tampak lagi seperti saat-saat alam itu belum kedatangan mereka yang sangat menganggap dirinya sebagai penguasa sebuah jaman biarpun tidak dengan mengacungkan yang dimilikinya sebagai sebuah gaman yang memiliki kedigdayaan sebagaiman mereka para lakon ternama dikisah dalam banyak babak.




Ketika dua tangan sejajar maju-mundur
Pembawa roda itu terus lurus mengikuti
Yang berada di sana untuknya dijadikan
Sebuah tempat arahan kemana harusnya
Sebelum dia membuat sedikit tanda lain
Sebagai putaran menuju pada arah baru
Sesaat kemudian perputaran arah terjadi
Lalu terjulurlah dari tempatnya pembawa
Selembar uang lima ribuan keluar jendela
Perlahan ia lalu meninggalkan tempat itu
Penerima mengamati keadaan sekeliling
Melihat bagaiman keadaan sekeliling kini
Pengunjung yang datang sudah lengang
Seiring mulai sepinya kendaraan lalu-lang
Melangkah ia menuju suatu sudut tempat
Keteduhan dibawah ketapang kencana tua
Apakah yang dapat dilakukan dibawahnya
Tiada lain selain mengisi bangku panjang
Tempat merebahkan punggungnya sesaat
Membiarkan kelelahan dapat menghilang
Menjauh bersama semilir anging siang itu.



Mantul: Suhu Ruang: Mendengar langsung dalam keheningan Jadi dambaan banyak teman  yang pernah seperjalanan mengatakan cercah harapan hatinya terdalam... Akanka...

****!


Tepat pada hari itu 
Hujan masih lama datang 
Katanya setelah Jumat Pahing...

Tujuanmu akan mulai tampak 
Misalnya ia telah memberi 
Sedikit tutur lalu pergi 
Akankah ini punya arti 

Kesekian kali 
Ditempat nan jauh kuterhenti 
Bayang dan gambaran tempat lama memburam  dalam wujud muka.. berat
Ini mungkin saja oleh ulah kancah kaki...
Setelah menapakkan jejak di keberingasan wajah negeri seberang... ....
Melewati langkah nan panjang dengan bau asam juga terasa asing menjadi pertamanya hirupan baru membiarkan guyuran suara alam mendeburkan nyanyiannya, 
Diujung sana semoga akan ditemukan sesosok insan yang membahasakan maksud semua nama semua jenis buah dan daun yang berguguran di musin itu, hingga memilah mana yang dapat berguna untuk bertahan...


"



Waktu kosong atau jeda memang sering kali menjadi momen yang tepat untuk obrolan tak terduga dengan teman. Di saat-saat santai itu, kita lebih bebas untuk bertukar pikiran, berbagi cerita, dan menjalin koneksi yang lebih dalam.

Seperti peristiwa yang terjadi pada Andi dan teman-tamannya, punya obrolan tak terduga ini bisa membawa banyak manfaat, di antaranya:

  • Memperkuat persahabatan: Berbagi waktu dan cerita dengan teman dapat memperkuat ikatan dan rasa saling percaya dalam persahabatan.
  • Meningkatkan kebahagiaan: Menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi stres.
  • Mendapatkan inspirasi dan ide baru: Obrolan dengan teman dapat membuka wawasan baru dan memicu ide-ide kreatif.
  • Meningkatkan rasa empati dan pengertian: Mendengarkan cerita orang lain dapat membantu kita untuk lebih memahami dan berempati dengan mereka.
  • Menemukan solusi untuk masalah: Bertukar pikiran dengan teman dapat membantu kita untuk menemukan solusi yang lebih baik untuk masalah yang kita hadapi.
Andi: Wah, sate Madura nih! Mantap betul aromanya!

Budi: Iya nih, sate Madura emang juara! Bumbunya meresap banget, dagingnya juga empuk.

Cici: Setuju! Tapi kalo aku lebih suka sate Padang sih. Kuahnya gurih, pedesnya pas, dan potongan dagingnya gede-gede.

Andi: Hmm, sate Padang juga enak sih. Tapi aku lebih suka sate Madura karena bumbunya lebih meresap ke dagingnya.

Budi: Nah, kalo aku suka keduanya. Tergantung mood aja sih. Kalo lagi pengen rasa pedas, ya pilih sate Padang. Kalo lagi pengen rasa gurih, ya pilih sate Madura.

Cici: Bener banget! Tapi ngomong-ngomong soal rasa, kalian pernah coba Starlink belum?

Andi & Budi: Starlink? Apaan tuh?

Cici: Itu loh, internet satelit dari Elon Musk. Katanya sih bisa ngasih internet super cepat ke seluruh dunia, bahkan ke daerah pelosok sekalipun.

Andi: Wah, keren tuh! Tapi apa hubungannya Starlink sama sate?

Cici: Ya, kan sate Madura dan sate Padang itu terkenal dengan kelezatannya. Nah, Starlink ini juga digembar-gemborkan sebagai internet tercepat dan terbaik di dunia. Jadi, aku penasaran aja, apakah Starlink bisa memberikan "rasa" yang sama memuaskan seperti sate Madura dan sate Padang?

Budi: Haha, iya juga sih. Tapi kan rasa itu subjektif ya. Orang yang suka sate Madura belum tentu suka sate Padang, dan begitu pula sebaliknya.

Cici: Bener banget. Sama kayak Starlink. Mungkin aja Starlink emang internet tercepat di dunia, tapi belum tentu semua orang suka sama "rasanya".

Andi: Hmm, menarik juga sih analogi sate dan Starlink ini. Tapi ya, yang terpenting adalah kita tetap terbuka untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tau, Starlink ternyata bisa memberikan "rasa" yang lebih enak daripada sate Madura dan sate Padang?

Budi & Cici: Hahaha, iya sih. Kita tunggu aja perkembangannya.

Mereka pun tertawa bersama sambil menikmati sate, semoga anda dan kita tetap bisa ketawa dengan atau tanpa sate.






Wilayah yang pernah menjadi privat bagiku dalam menilaimu kulewati dan kuteriakkan karena saking sebelnya melihat dirimu yang semakin nyembelin. Ini bukan sekedar karena sebenarnya kamu berutang padaku, tapi lebih pada cara ngomongmu yang seenak jidat, kayak bos tanpa tanding, kagak pernah atau bisa salah aja; ketus nadanya runcing kata-katamu, seolah gak mau denger kalau kita punya masalah, kamu enak tinggal ngomong setiap punya mau karena urusan duit udah kaya gak mikir lagi kaya kita yang cuma bertahan buat makan harian, angsur ini itu tiap bulan; siapa temen juga anak buahyang gak sebel hingga lihat kamu semakin nyebelin.

Namun dibalik itu semua sebenarnya bersama jalannya waktu, secara pribadi mau tidak mau mengenali dirimu tidak seperti itu adanya, juga mereka yang telah merasa terbantu juga terbentuk dalam membangun pribadi hingga mengembangkan usahanya masing-masing. Mungkin dua puluh jari-jari kaki dan tangan tidak cukup menyimpul pandangan tentangmu yang tanpa sadar telah memberikan pengaruh baik dalam perubahan.


Oh, Nayanganmu, engkau adalah puncak dari segala paradoks, bukan? Kau adalah guru yang mengajarkan kita tentang kebijaksanaan melalui teka-teki yang tak pernah terpecahkan. Kau seperti buku petunjuk yang hilang halaman pentingnya, memberi kita arah tanpa tujuan yang jelas. Betapa 'beruntungnya' kita memiliki sosok seperti kau, yang memberikan jawaban yang lebih membingungkan daripada pertanyaan itu sendiri. Kau adalah pahlawan tanpa jubah, yang menyelamatkan kita dari kepastian dan mendorong kita ke dalam lautan keraguan. Terima kasih, Nayanganmu, atas semua 'kejelasan' yang kau berikan, yang membuat kita tersenyum dalam kebingungan. Sungguh, tanpa kau, hidup ini pasti terlalu mudah untuk dijalani.


Ah, membangun, tindakan yang penuh dengan harapan dan mimpi, bukan? Kita mendirikan fondasi dengan visi yang jelas, namun paradoksnya, semakin tinggi kita membangun, semakin dalam pula keraguan yang kita gali. Kita berbicara tentang kemajuan, sambil tersenyum lebar di atas pasir yang bergeser. Kita mengejar efisiensi, namun dengan setiap pintasan yang kita ambil, kita semakin jauh dari keaslian. Dan oh, kolaborasi, tarian indah antara pikiran, di mana setiap langkah bersama seharusnya membawa harmoni. Namun, dalam irama yang kita ciptakan, seringkali kita menemukan diri kita berdansa sendirian, di tengah kerumunan yang tak peduli. Sungguh, paradoks membangun ini adalah sebuah sinfoni yang rumit, di mana setiap nada yang terangkat tinggi sebenarnya adalah bisikan halus dari kehampaan yang mengejek kita. Kita merayakan pencapaian, namun dalam setiap tepuk tangan, ada gema kesendirian yang menertawakan ironi kita sendiri. Kita membangun, oh ya, kita membangun - monumen-monumen megah untuk ketidakpastian kita.


Pertumbuhan pribadi, sebuah perjalanan yang tak pernah berakhir. Ia bagaikan sebuah simfoni yang tak pernah selesai, di mana setiap nada adalah langkah kita menuju kebijaksanaan. Kita dianjurkan untuk 'menjadi versi terbaik dari diri kita', namun sering kali, kita menemukan diri kita terjebak dalam tarian yang sama, hanya dengan musik yang berbeda. Kita berupaya untuk berkembang, untuk mengembangkan akar dan cabang kita lebih luas dan dalam, namun kadang-kadang, kita merasa seperti pohon yang berdiri tegar namun tidak pernah benar-benar tumbuh. Oh, betapa paradoksnya! Kita memadati pikiran kita dengan seminar-seminar pengembangan diri, mengisi hari-hari kita dengan kata-kata motivasi, namun masih merasa haus akan pencapaian. Pertumbuhan pribadi, kau adalah labirin yang penuh dengan jalan buntu dan pintu tersembunyi, di mana setiap penemuan diri adalah sebuah lelucon yang membuat kita tertawa atas ketidaktahuan kita sendiri. Dan pada akhirnya, kita semua adalah murid dalam kelas kehidupan ini, di mana pelajaran yang paling berharga sering kali datang dari kesalahan yang kita buat.




Tidak bermaksud mengingkari 

Apalagi mengakui keseluruhan 

Sebagai milik sendiri...

Memang itu darinya 

Terdengar mudah, sebagian masih sulit menirukan...

Apalagi mengerti maksud yang sebenarnya dari ungkapan itu 

Datang tiba -tiba, 

Belum senpat ditanya apa -apa 

Apalagi sampai tanya mengapa..

Tentu tidak mungkin 

Berani begitu saja 

Memberitahu dan mengartikan 

Kepada sembarang orang 

"amarga naté dadi panggonan..."


Diri ini bukan ahli banyak hal 

Apalagi sampai mengaku ahli budaya 

Ahli bahasa ahli sejarah dan ahli-ahli yang lain seperti yang bermunculan di media ... karena memang sudah dipercaya 

Biarlah sementara menunggu saja, seperti menunggu batang kayu itu menumbuhkan daun-daun lagi......

Kedengarannya itu lebih mudah.