Popular Posts
-
Menjadi siapa ... Atau Untuk siapa.... Dalam sendiri wajah itu Membiarkan dirinya larut Suasana itu bukan miliknya Mungkin juga bukan mi...
-
Butuh pengalaman Melihat seperti rasa itu Mencari bentuk yang kelihatan Menggali bahkan yang tidak terjangkau tangan Menemukan yang tidak ...
-
👫👪👨👯👠ia katakan dengan sedikit malu apa adanya yang ada apa yang sesungguhnya ia pahami sesekali ia menyela menyeruput tehnya lalu mel...
-
menangani berbagai urusan kotor cerita setelah dipakai lebih sering daripada kebalikannya cerita sebelum dipakai walau tetap sama pada renta...
-
Tidak menarik sore itu Dibubuhkan sebuah nama Yang mengarti pada kegagalan Apalagi kegagalan total perburuan Total ditempuh dengan menge...
-
Rasanya ingin menemukan Jurus abrakadabra Saat menemukan data yang belum dapat tercerna logika ... Bila kenormalan sebuah grafik hanya g...
-
Yang ...harapan tetap ada Kelak engkau datang lagi Sebagaimana Engkau adanya Karena Engkau yang paling diminati Salah tidak untuk dicari ...
-
Ada gerai sebelum ujung jalan Nampak berkemas usai petang Sejenak kami berbelok ke sana Mendapatkan beberapa kotak Sebagai tambahan teman...
-
ia diam di sana berdiri di tempat itu tertegun tanpa berucap melihat tingginya pertanda bilangan atau pertanda yang menjulang sesekali ram...
Blogger templates
Blogroll
About
Gerimis malam,
Datangmu bersama sang bayu,
Terasa semakin mencengkeram
Daun-daun semakin malu,
Enggan dan semakin merunduk,
Walau mereka sebenarnya
Telah lama menantimu....
Sebuah kata sedang terdiam
Sekuntum kamboja terkulai
Seraut wajah kini terbayang
Sekonyong ia kini tertunduk
Kembali ia memilih berpaling
Telinganya memerah kekuningan
Sewarna bunga yang tetap singgah
Menghias gelap rambut dan pelipisnya
Satu tangan ada di saku
Satunya menopang dagu
Terus memandang
Dirimu sebagai sang makhluk.
Ada yang bersamanya
Mungkin tidak bersamamu
Lambaian padanya dikenalinya
Ajakan untuk mendekat
Menjadi bagian dan saksi
Carita batang-batang yang tumbuh
Mengukir kisah cantik yang muncul
Bersama datangnya musim menuai.
Kesilauan yang tidak hanya sekali
Membawa berulangnya decak
Sitiap tanda demi tanda
Yang silih menyela nafas
Mengisyaratkan kemana langkah
Kemana setiap tetes tinta
Mesti tertuang.
Penuh jejal, ditempat ini!
Para penanti mereka yang telah lama
Bangga disemati juluk sebagai pengobral janji.
Tanpa terhitung, juga berada!
barisan terulung kian melanglang
Memenuhi hingga setiap sudut
Demi pecundang yang tiada pernah mengerti diuntung.
Para penonton pergulatan malam
Tertoreh keraguan hingga masuk dalam
Juang lelah menjauh dari dengung serta gaung ketakutan,
Semunya penglihatan bahkan kian mengecil melampaui semut bahkan tungau.
Semua jawaban hanya seperti anggukan daun-daun basah kehujanan.
Ada perjumpaan yang tidak dimulai dari tatap mata, bukan pula dari jabat tangan yang hangat. Terkadang, takdir memperkenalkan dirinya lewat cara yang jauh lebih sunyi, namun anehnya langsung menghunjam ke dalam ingatan: sebuah perjumpaan dengan sebuah nama.
Nama itu hadir tanpa permisi. Mungkin ia hanya tertera di sudut secarik kertas, melintas di layar gawai, atau tak sengaja terucap dalam sebuah obrolan yang santai. Pada awalnya, ia hanyalah deretan huruf biasa, sama seperti ribuan kata lain dalam kamus. Namun, ada getaran tak kasat mata yang tertinggal di sana. Sebuah kesan ganjil yang membuat langkah kita mendadak terhenti, seolah ego kita dipaksa tunduk untuk mengeja ulang setiap suku katanya.
Mengeja nama itu seperti membuka gerbang menuju sebuah dunia yang belum pernah kita masuki. Kita belum tahu bagaimana rupa pemiliknya, bagaimana nada suaranya saat tertawa, atau bagaimana tatapan matanya saat memandang dunia. Namun, nama itu sendiri sudah membawa atmosfernya sendiri—membawa kehangatan, ketenangan, atau mungkin sebuah misteri yang memanggil-manggil untuk dipecahkan.
Di sinilah sentuhan tak kasat mata itu bekerja. Nama tersebut berhenti menjadi sekadar identitas. Ia berubah menjadi sebuah ruang tunggu bagi rasa penasaran, sebuah jembatan batin yang mendahului raga. Kita dibuat menyadari bahwa sebelum dua manusia benar-benar saling menemukan dalam ruang dan waktu, jiwa mereka sering kali sudah saling menyapa lewat getaran nama yang tertangkap oleh intuisi.
Pada akhirnya, kesan pertama yang paling jujur tidak selalu lahir dari apa yang ditangkap oleh indra penglihatan. Ada kalanya, hati sudah tahu lebih dulu ke mana ia harus menaruh perhatian, bahkan hanya dari sebaris nama yang berbisik lirih di bawah sentuhan yang tak kasat mata.
Kini, dalam senyap yang merambat, terbitlah sebait tanya yang getarnya tak kasat mata. Adakah semua rasa yang terjalin dalam bait-bait ini juga berdesir halus di dinding hatimu? Biarlah waktu dan semesta, lewat cara-caranya yang paling puitis dan tak terduga, menjadi penerjemah bagi kedua rindu yang mungkin tengah saling mencari, meski masih dipisahkan oleh tabir ketidaktahuan. Pasti ada cara untuk memahaminya.
Gema di Ruang Sepi
Aku bukan siapa-siapa,
Bukan nama yang terpahat di batu nisan megah,
Bukan pula sorai yang memenuhi riuh perayaan.
Aku hanyalah helai napas yang tertinggal,
Atau jejak kaki yang lekas dihapus ombak pagi.
Namun, di antara riuh dunia yang melelahkan,
Aku memilih menjadi sesuatu yang paling sunyi:
Sebuah suara kecil di hatimu.
Aku adalah jeda di tengah bimbangmu,
Ketukan lembut saat kau hampir menutup pintu,
Dan kehangatan yang menjalar pelan,
Saat dunia terasa begitu dingin dan asing.
Jangan cari aku di keramaian mata,
Sebab aku menetap di balik rusukmu.
Menjagamu tetap terjaga,
Menemanimu saat semua orang telah melupa.
Aku bukan siapa-siapa,
Kecuali doa yang kau sebut tanpa suara,
Dan cinta yang tak butuh tanda sebagai yang terhormat, terbaik dan ' ter-ter ' lainya.
Menjadi siapa ...
Atau
Untuk siapa....
Dalam sendiri wajah itu
Membiarkan dirinya larut
Suasana itu bukan miliknya
Mungkin juga bukan milikku
Kesana dan tidak berpikir
Akan dua penanya yang mengawal
Ia yang diselimuti warna seragam berkabut
Atau ia yang membagi kerenyahan suara
Mendekat seolah sebagai penyambut
Pun telah mengarahkan wajah tanpa cemberut
Seakan telah dengan semua tubuh dan pandangan bersama telah menaut
Sebagaimana gaung pengarah punya debut, seolah-olah runtut hingga semua seturut..
Hanya ia yang masih menyisa, akan bedanya kisah baru, sebuah babak lain jauh dari budi dan fantasi arus dan gelombang informasi yang mengalir di setiap sudut ruang pendatang...
Manis cerita dalam bara dan terik, baur melebur, bukan derita telah turut mencebur,
Menjadi pengalas lukisan penghias, pelengkap dirapatkan mencampur kebaruan bungkus menyekat setiap arang yang telah berubah warna kian cerah...
Ia kemari, bukan untuk dihindari ;
Ia sampaikan banyak hal bukan kebetulan,
Ia telah meluangkan...
Banyak hal dan segala macam kepentingan,
Katanya tidak terlalu penting saat ini untuk dipikirkan, perjumpaan ini sudah cukup berarti menjadi sebuah balasan, menghantar pada terindahnya keadaan...

