Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About






Amuk bilah-bilah tanpa tuan
melayangkan galaunya jurus-jurus
henti menghunuskan kekuatan kepadanya....
Yang bertandang tanpa memandang siang bolong

Kerumun jangkar-jangkar jauh berlabuh mengitari
Henti menerawang memisah disetiap penhujung jarak pandang
Kesempurnaan akankah menjadi ramalan pelantun
Setiap bait punjangga yang sudah sangat usang....
Dibungkus membatunya jaman mengeras 
pada setiap pijakan langkahnya.....


ia seperti membuat kehilinganmu..
tanpa melirik lagi kelianganmu.....
memasangkan nyanyian cinta semu
ditangisi daun-daun yang berhenti berharap
mengugurkan niatnya menjaga keteduhan
biarlah umur yang bicara semua tanpa kilau senjata itu lagi

Sangat mengerikan kemunculannya.....

apatah yang menjadi inti pintanya .....

Tak pula ada yang bicara agar semua mengerti .....
keadaan bisa mengubah kita 
ia biasa membuat kita mundur 
ia pun menjadikan kita semakin berdaya 

kita butuh cara 
kita butuh tenaga 
kita butuh ketrampilan 

hingga tahu cara 
untuk merasakan 
lalu menanggapi 
hingga bertindak 
lebih produktif

menghadapi makanan 
juga tak jauh beda 
memandang menghirup 
hingga menikmatinya
#####



Menjadi siapa ...

Atau 

Untuk siapa....

Dalam sendiri wajah itu 

Membiarkan dirinya larut 

Suasana itu bukan miliknya 

Mungkin juga bukan milikku 

Kesana dan tidak berpikir 

Akan dua penanya yang mengawal 

Ia yang diselimuti warna seragam berkabut

Atau ia yang membagi kerenyahan suara 

Mendekat seolah sebagai penyambut 

Pun telah mengarahkan wajah tanpa cemberut 

Seakan telah dengan semua tubuh dan pandangan bersama telah menaut 

Sebagaimana gaung pengarah punya debut, seolah-olah runtut hingga semua seturut..

Hanya ia yang masih menyisa, akan bedanya kisah baru, sebuah babak lain jauh dari budi dan fantasi arus dan gelombang informasi yang mengalir di setiap sudut ruang pendatang...

Manis cerita dalam bara dan terik, baur melebur, bukan derita telah turut mencebur,

Menjadi pengalas lukisan penghias, pelengkap dirapatkan mencampur kebaruan bungkus menyekat setiap arang yang telah berubah warna kian cerah...

Ia kemari, bukan untuk dihindari ;

Ia sampaikan banyak hal bukan kebetulan,

Ia telah meluangkan...

Banyak hal dan segala macam kepentingan,

Katanya tidak terlalu penting saat ini untuk dipikirkan, perjumpaan ini sudah cukup berarti menjadi sebuah balasan, menghantar pada terindahnya keadaan...







Lewat tengah hari, usai mengisi perut dengan berjalan santai aku akan kembali ke kantor.  Kulihat seorang wanita berumur berjalan agak berat menuju ke sebuah halte.

"Selamat siang, Bu" kuhampiri dari belakang menuju sampingnya.

"Oh.. ngagetin nenek aja, udah! Nenek udah makan siang baru aja, sepertinya tidak jauh dari mejamu" dengan ramah ia menjawab.

"Nenek ini mau ke halte, atau mau belanja? Ke halte depan itu ya? " aku mencoba buka obrolan dengam beliau.

"Oh... nggak kok nak, nenek cuma mau ke halte itu!" Nenek itu menegaskan arahnya, sementara seorang pemuda yang berjalan tidak jauh di depan kita menoleh kebelakang.

"Itu cucu nenek, kami berangkat bareng tapi mama-papanya lagi ketemu partnernya di sana tadi, jadi dia nganter nenek mau ketemu teman lama, kira-kira lima menitan naik bus dari sini. Kalau kamu mau kemana nak?" semakin ramah nenek ini ternyata suka ngobrol.

"Saya mau kembali ke kantor Nek, ini cuma istirahat makan siang" kujawab dengan tetap tangannya membiarkan menggandeng tanganku.

"Dulu mama dia saya ajari untuk sering bawa bekal sendiri, biar hemat juga sehat; kamu gak tertarik untuk coba begitu? Tampak keibuan ia memberi nasehat tidak langsung kepadaku juga.

"Biasanya juga begitu, Nek; Cuma tadi bangunnya kesiangan" jawabku sambil tertawa juga menghargai idenya.

Sang cucu tampak tidak sabar berjalan dengan neneknya yang lambat, dengan sekali-kali menoleh ke belakang."Dia memang begitu kalau suruh nganter nenek, sering gak sabaran" komentar nenek yang melirik ekspresi cucunya.

"Trimakasih sudah nemenin nenek jalan ya, ini udah sampai!" sapanya ketika sudah sampai halte.

"Sama-sama nek, sekalian jalan kok Nek, say masih kira-kira lima puluh meter lagi, Ne, bye Nek...!"

Kami berpisah dan sang cucu sempat memberikan sedikit seenyum tanpa sepatah kata pun.

💁

...

Pengisi semua putaran itu ternyata berjarak, ketika dihentikan tiada tampak kepadatan sebagai selimut permukaan, menyisa kekosongan tiada terhitung, disini tidak ada arti sedikitpun pinta buatmu menghitungnya....



Esensi keras sebagai pengubah juga bukan  untuk dikaji karena kebalikannyalah pengubah terindah wajah permukaan yang paling tampak...

Baginya bila setiap kawat, lempengan, pita dan pelat telah dipercaya secara ilmiah, dapat menyimpan aneka suara termasuk suaramu, hingga seiring waktu lebih dari suara, ia menunjuk segala benda disekitar yang katanya memiliki partikel serupa yang tiada disadari banyak manusia berkemampuan sama;

Sedikit orang menggunakannya, karena masuki kesadaran semacam itu bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan, kita yang hanya orang biasa cukup melakukan hal yang biasa dan mudah dimengerti, apa anehnya?
😙🙄😐

Jenang ekspreso: Dalam Komponen: Terbawa lembut hingga relung sapaan senja menghentikan ia yang telah jauh melewati jalan panjang nan jauh dan penuh lika-liku  Parau seloroh...

Sedang sama sama duduk 

Kedua pasang mata itu mengalihkan pandangan 

Semula pada masing-masing gawainya

Tidak lama berselang matanya sudah menampakkan kelelahan, wajahnya menggambarkan sama-sama kebosanan 

"Sedang nunggu juga?" Satu pria yang lebih tampak dewasa memulai sapanya...

"Ia ini kak postingan teman yang katanya mau ditambahin belum muncul-muncul" dengan masih agak malas menjawab akhirnya obrolan dimulai juga.

"Oh kirain lagi nunggu pesanan makanan yang unik di sini?" Timpal pria itu sambil membenahi kursi kayu yang didudukinya.

"Iya juga sih Kak, soalnya ada temen cerita trus bikin penasaran mau ikutan coba, itu tadi udah pesen beberapa bungkus".

"Wah gak nyangka doyan juga ya, padahal itu makanan bahannya udah lama dan kering bahkan berjamur, warnanya juga udah gak menarik loh Dik?" Pria itu masih mencoba obrolan menggoda minat dan seleranya.

....

"Gapa Kak, $iapa tahu cocok dilidah dan nagih, oooh itu pas udah beres, ..oohhh pas juga postingan dia muncul Kak! Aku duluan ya Kak!"

"Ok , selamat menikmati,moga cocok Dik"

"Oh iya Kak, kapan - kapan mampir , kerjaku diujung jalan ini, aku lagi magang di kantor pemasaran itu, bilang aja Eliun gitu" 

Dengan lambaian ramah pria itu mengangguk dan melambaikan tangannya.

....

 

Ada komen terbersit rasa haru masih terngiang akan kedua kesempatan obrolan dengannya.. ...dalam bahasa mirip Indonesia memiliki konteksnya akan arti yang lebih utuh Ini menggambarkan perasaan yang mudah tersentuh atau tergerak secara emosional. Dengan kedatangan dan obrolan itu menunjukkan perasaan simpati atau belas kasihan terhadap seseorang atau sesuatu. Iba: Ini juga menunjukkan perasaan simpati atau belas kasihan, sering kali disertai dengan keinginan untuk membantu. Tergerak: Kata ini menggambarkan perasaan yang timbul akibat sesuatu yang menyentuh hati. Sedih: dalam bebera pa konteks, haru bisa disamakan dengan sedih, karena perasaan yang muncul bisa serupa. Selain itu, kata "haru" juga dapat digunakan dalam frasa "haru biru", yang memiliki arti yang berbeda. "Haru biru" berarti: Kerusuhan: Ini menggambarkan situasi yang kacau atau tidak teratur. Keributan: Ini menunjukkan adanya gangguan atau kekacauan. Kekacauan: Ini menggambarkan keadaan yang tidak teratur atau berantakan. Huru-hara: Ini menunjukkan adanya kerusuhan atau kekacauan