Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About

 



Gerimis malam, 

Datangmu bersama sang bayu, 

Terasa semakin mencengkeram

Daun-daun semakin malu, 

Enggan dan semakin merunduk, 

Walau mereka sebenarnya

Telah lama menantimu.... 


Sebuah kata sedang terdiam

Sekuntum kamboja terkulai

Seraut wajah kini terbayang

Sekonyong ia kini tertunduk 

Kembali ia memilih berpaling

Telinganya  memerah kekuningan

Sewarna bunga yang tetap singgah

Menghias gelap rambut dan pelipisnya

Satu tangan ada di saku

Satunya menopang dagu

Terus memandang 

Dirimu sebagai sang makhluk. 


Ada yang bersamanya

Mungkin tidak bersamamu

Lambaian padanya dikenalinya

Ajakan untuk mendekat

Menjadi bagian dan saksi 

Carita batang-batang yang tumbuh

Mengukir kisah cantik yang muncul

Bersama datangnya musim menuai. 


Kesilauan yang tidak hanya sekali

Membawa berulangnya decak

Sitiap tanda demi tanda

Yang silih menyela nafas

Mengisyaratkan kemana langkah

Kemana setiap tetes tinta

Mesti tertuang. 


Penuh jejal, ditempat ini! 

Para penanti mereka yang telah lama

Bangga disemati juluk sebagai pengobral janji. 

Tanpa terhitung, juga berada! 

barisan terulung kian melanglang

Memenuhi hingga setiap sudut

Demi pecundang yang tiada pernah mengerti diuntung. 

Para penonton pergulatan malam

Tertoreh keraguan hingga masuk dalam

Juang lelah menjauh dari dengung serta gaung ketakutan, 

Semunya penglihatan bahkan kian mengecil melampaui semut bahkan tungau. 

Semua jawaban hanya seperti anggukan daun-daun basah kehujanan. 


 


​Ada perjumpaan yang tidak dimulai dari tatap mata, bukan pula dari jabat tangan yang hangat. Terkadang, takdir memperkenalkan dirinya lewat cara yang jauh lebih sunyi, namun anehnya langsung menghunjam ke dalam ingatan: sebuah perjumpaan dengan sebuah nama.

​Nama itu hadir tanpa permisi. Mungkin ia hanya tertera di sudut secarik kertas, melintas di layar gawai, atau tak sengaja terucap dalam sebuah obrolan yang santai. Pada awalnya, ia hanyalah deretan huruf biasa, sama seperti ribuan kata lain dalam kamus. Namun, ada getaran tak kasat mata yang tertinggal di sana. Sebuah kesan ganjil yang membuat langkah kita mendadak terhenti, seolah ego kita dipaksa tunduk untuk mengeja ulang setiap suku katanya.

​Mengeja nama itu seperti membuka gerbang menuju sebuah dunia yang belum pernah kita masuki. Kita belum tahu bagaimana rupa pemiliknya, bagaimana nada suaranya saat tertawa, atau bagaimana tatapan matanya saat memandang dunia. Namun, nama itu sendiri sudah membawa atmosfernya sendiri—membawa kehangatan, ketenangan, atau mungkin sebuah misteri yang memanggil-manggil untuk dipecahkan.

​Di sinilah sentuhan tak kasat mata itu bekerja. Nama tersebut berhenti menjadi sekadar identitas. Ia berubah menjadi sebuah ruang tunggu bagi rasa penasaran, sebuah jembatan batin yang mendahului raga. Kita dibuat menyadari bahwa sebelum dua manusia benar-benar saling menemukan dalam ruang dan waktu, jiwa mereka sering kali sudah saling menyapa lewat getaran nama yang tertangkap oleh intuisi.

​Pada akhirnya, kesan pertama yang paling jujur tidak selalu lahir dari apa yang ditangkap oleh indra penglihatan. Ada kalanya, hati sudah tahu lebih dulu ke mana ia harus menaruh perhatian, bahkan hanya dari sebaris nama yang berbisik lirih di bawah sentuhan yang tak kasat mata.

Kini, dalam senyap yang merambat, terbitlah sebait tanya yang getarnya tak kasat mata. Adakah semua rasa yang terjalin dalam bait-bait ini juga berdesir halus di dinding hatimu? Biarlah waktu dan semesta, lewat cara-caranya yang paling puitis dan tak terduga, menjadi penerjemah bagi kedua rindu yang mungkin tengah saling mencari, meski masih dipisahkan oleh tabir ketidaktahuan. Pasti ada cara untuk memahaminya.