Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About

 



Gerimis malam, 

Datangmu bersama sang bayu, 

Terasa semakin mencengkeram

Daun-daun semakin malu, 

Enggan dan semakin merunduk, 

Walau mereka sebenarnya

Telah lama menantimu.... 


Sebuah kata sedang terdiam

Sekuntum kamboja terkulai

Seraut wajah kini terbayang

Sekonyong ia kini tertunduk 

Kembali ia memilih berpaling

Telinganya  memerah kekuningan

Sewarna bunga yang tetap singgah

Menghias gelap rambut dan pelipisnya

Satu tangan ada di saku

Satunya menopang dagu

Terus memandang 

Dirimu sebagai sang makhluk. 


Ada yang bersamanya

Mungkin tidak bersamamu

Lambaian padanya dikenalinya

Ajakan untuk mendekat

Menjadi bagian dan saksi 

Carita batang-batang yang tumbuh

Mengukir kisah cantik yang muncul

Bersama datangnya musim menuai. 


Kesilauan yang tidak hanya sekali

Membawa berulangnya decak

Sitiap tanda demi tanda

Yang silih menyela nafas

Mengisyaratkan kemana langkah

Kemana setiap tetes tinta

Mesti tertuang. 


Penuh jejal, ditempat ini! 

Para penanti mereka yang telah lama

Bangga disemati juluk sebagai pengobral janji. 

Tanpa terhitung, juga berada! 

barisan terulung kian melanglang

Memenuhi hingga setiap sudut

Demi pecundang yang tiada pernah mengerti diuntung. 

Para penonton pergulatan malam

Tertoreh keraguan hingga masuk dalam

Juang lelah menjauh dari dengung serta gaung ketakutan, 

Semunya penglihatan bahkan kian mengecil melampaui semut bahkan tungau. 

Semua jawaban hanya seperti anggukan daun-daun basah kehujanan. 


0 Comments: