Popular Posts
-
Yang ...harapan tetap ada Kelak engkau datang lagi Sebagaimana Engkau adanya Karena Engkau yang paling diminati Salah tidak untuk dicari ...
-
Tidak menarik sore itu Dibubuhkan sebuah nama Yang mengarti pada kegagalan Apalagi kegagalan total perburuan Total ditempuh dengan menge...
-
Butuh pengalaman Melihat seperti rasa itu Mencari bentuk yang kelihatan Menggali bahkan yang tidak terjangkau tangan Menemukan yang tidak ...
-
Menjadi siapa ... Atau Untuk siapa.... Dalam sendiri wajah itu Membiarkan dirinya larut Suasana itu bukan miliknya Mungkin juga bukan mi...
-
berandai lelah dan nyerah mencoba yang memasuki akal kelak atau sudah bagian pengalaman semua memandikan gairah sebagai sepadannya pasr...
-
ia diam di sana berdiri di tempat itu tertegun tanpa berucap melihat tingginya pertanda bilangan atau pertanda yang menjulang sesekali ram...
-
Bersenang-senang dipinggir laut Bahan yang disuka oleh banyak orang selfi dalam banyak pose juga bersama dengan pasir mainan juga berlat...
-
π«πͺπ¨π―π ia katakan dengan sedikit malu apa adanya yang ada apa yang sesungguhnya ia pahami sesekali ia menyela menyeruput tehnya lalu mel...
-
menangani berbagai urusan kotor cerita setelah dipakai lebih sering daripada kebalikannya cerita sebelum dipakai walau tetap sama pada renta...
Blogger templates
Blogroll
About
Gema di Ruang Sepi
Aku bukan siapa-siapa,
Bukan nama yang terpahat di batu nisan megah,
Bukan pula sorai yang memenuhi riuh perayaan.
Aku hanyalah helai napas yang tertinggal,
Atau jejak kaki yang lekas dihapus ombak pagi.
Namun, di antara riuh dunia yang melelahkan,
Aku memilih menjadi sesuatu yang paling sunyi:
Sebuah suara kecil di hatimu.
Aku adalah jeda di tengah bimbangmu,
Ketukan lembut saat kau hampir menutup pintu,
Dan kehangatan yang menjalar pelan,
Saat dunia terasa begitu dingin dan asing.
Jangan cari aku di keramaian mata,
Sebab aku menetap di balik rusukmu.
Menjagamu tetap terjaga,
Menemanimu saat semua orang telah melupa.
Aku bukan siapa-siapa,
Kecuali doa yang kau sebut tanpa suara,
Dan cinta yang tak butuh tanda sebagai yang terhormat, terbaik dan ' ter-ter ' lainya.
Menjadi siapa ...
Atau
Untuk siapa....
Dalam sendiri wajah itu
Membiarkan dirinya larut
Suasana itu bukan miliknya
Mungkin juga bukan milikku
Kesana dan tidak berpikir
Akan dua penanya yang mengawal
Ia yang diselimuti warna seragam berkabut
Atau ia yang membagi kerenyahan suara
Mendekat seolah sebagai penyambut
Pun telah mengarahkan wajah tanpa cemberut
Seakan telah dengan semua tubuh dan pandangan bersama telah menaut
Sebagaimana gaung pengarah punya debut, seolah-olah runtut hingga semua seturut..
Hanya ia yang masih menyisa, akan bedanya kisah baru, sebuah babak lain jauh dari budi dan fantasi arus dan gelombang informasi yang mengalir di setiap sudut ruang pendatang...
Manis cerita dalam bara dan terik, baur melebur, bukan derita telah turut mencebur,
Menjadi pengalas lukisan penghias, pelengkap dirapatkan mencampur kebaruan bungkus menyekat setiap arang yang telah berubah warna kian cerah...
Ia kemari, bukan untuk dihindari ;
Ia sampaikan banyak hal bukan kebetulan,
Ia telah meluangkan...
Banyak hal dan segala macam kepentingan,
Katanya tidak terlalu penting saat ini untuk dipikirkan, perjumpaan ini sudah cukup berarti menjadi sebuah balasan, menghantar pada terindahnya keadaan...
Lewat tengah hari, usai mengisi perut dengan berjalan santai aku akan kembali ke kantor. Kulihat seorang wanita berumur berjalan agak berat menuju ke sebuah halte.
"Selamat siang, Bu" kuhampiri dari belakang menuju sampingnya.
"Oh.. ngagetin nenek aja, udah! Nenek udah makan siang baru aja, sepertinya tidak jauh dari mejamu" dengan ramah ia menjawab.
"Nenek ini mau ke halte, atau mau belanja? Ke halte depan itu ya? " aku mencoba buka obrolan dengam beliau.
"Oh... nggak kok nak, nenek cuma mau ke halte itu!" Nenek itu menegaskan arahnya, sementara seorang pemuda yang berjalan tidak jauh di depan kita menoleh kebelakang.
"Itu cucu nenek, kami berangkat bareng tapi mama-papanya lagi ketemu partnernya di sana tadi, jadi dia nganter nenek mau ketemu teman lama, kira-kira lima menitan naik bus dari sini. Kalau kamu mau kemana nak?" semakin ramah nenek ini ternyata suka ngobrol.
"Saya mau kembali ke kantor Nek, ini cuma istirahat makan siang" kujawab dengan tetap tangannya membiarkan menggandeng tanganku.
"Dulu mama dia saya ajari untuk sering bawa bekal sendiri, biar hemat juga sehat; kamu gak tertarik untuk coba begitu? Tampak keibuan ia memberi nasehat tidak langsung kepadaku juga.
"Biasanya juga begitu, Nek; Cuma tadi bangunnya kesiangan" jawabku sambil tertawa juga menghargai idenya.
Sang cucu tampak tidak sabar berjalan dengan neneknya yang lambat, dengan sekali-kali menoleh ke belakang."Dia memang begitu kalau suruh nganter nenek, sering gak sabaran" komentar nenek yang melirik ekspresi cucunya.
"Trimakasih sudah nemenin nenek jalan ya, ini udah sampai!" sapanya ketika sudah sampai halte.
"Sama-sama nek, sekalian jalan kok Nek, say masih kira-kira lima puluh meter lagi, Ne, bye Nek...!"
Kami berpisah dan sang cucu sempat memberikan sedikit seenyum tanpa sepatah kata pun.
π
...
Sedang sama sama duduk
Kedua pasang mata itu mengalihkan pandangan
Semula pada masing-masing gawainya
Tidak lama berselang matanya sudah menampakkan kelelahan, wajahnya menggambarkan sama-sama kebosanan
"Sedang nunggu juga?" Satu pria yang lebih tampak dewasa memulai sapanya...
"Ia ini kak postingan teman yang katanya mau ditambahin belum muncul-muncul" dengan masih agak malas menjawab akhirnya obrolan dimulai juga.
"Oh kirain lagi nunggu pesanan makanan yang unik di sini?" Timpal pria itu sambil membenahi kursi kayu yang didudukinya.
"Iya juga sih Kak, soalnya ada temen cerita trus bikin penasaran mau ikutan coba, itu tadi udah pesen beberapa bungkus".
"Wah gak nyangka doyan juga ya, padahal itu makanan bahannya udah lama dan kering bahkan berjamur, warnanya juga udah gak menarik loh Dik?" Pria itu masih mencoba obrolan menggoda minat dan seleranya.
....
"Gapa Kak, $iapa tahu cocok dilidah dan nagih, oooh itu pas udah beres, ..oohhh pas juga postingan dia muncul Kak! Aku duluan ya Kak!"
"Ok , selamat menikmati,moga cocok Dik"
"Oh iya Kak, kapan - kapan mampir , kerjaku diujung jalan ini, aku lagi magang di kantor pemasaran itu, bilang aja Eliun gitu"
Dengan lambaian ramah pria itu mengangguk dan melambaikan tangannya.
....
Ada komen terbersit rasa haru masih terngiang akan kedua kesempatan obrolan dengannya.. ...dalam bahasa mirip Indonesia memiliki konteksnya akan arti yang lebih utuh Ini menggambarkan perasaan yang mudah tersentuh atau tergerak secara emosional. Dengan kedatangan dan obrolan itu menunjukkan perasaan simpati atau belas kasihan terhadap seseorang atau sesuatu. Iba: Ini juga menunjukkan perasaan simpati atau belas kasihan, sering kali disertai dengan keinginan untuk membantu. Tergerak: Kata ini menggambarkan perasaan yang timbul akibat sesuatu yang menyentuh hati. Sedih: dalam bebera pa konteks, haru bisa disamakan dengan sedih, karena perasaan yang muncul bisa serupa. Selain itu, kata "haru" juga dapat digunakan dalam frasa "haru biru", yang memiliki arti yang berbeda. "Haru biru" berarti: Kerusuhan: Ini menggambarkan situasi yang kacau atau tidak teratur. Keributan: Ini menunjukkan adanya gangguan atau kekacauan. Kekacauan: Ini menggambarkan keadaan yang tidak teratur atau berantakan. Huru-hara: Ini menunjukkan adanya kerusuhan atau kekacauan
To summarize information quickly, follow these strategies:
nihil cara dapat secepat kilat mampu kutemukan hingga kumiliki kemampuan ala engkau, untuk mengisah bagaimana permainan satu pusaka melagukan kemeriahan diantara jubalan cahaya dan pemirsa; terlepas dari kelengkapan iringan yang tidak ditampakkan dari ketinggian tempat membidikkan arah pandang, tempat semua mata sedang tertuju...
malam itu penjaja keliling tiada muncul, penjual minuman penghangat, kacang rebus, jagung bakar dan juga yang lainnya, pengantar laku tidak tampak menunjukkan kejenuhan, semua bagai ikut dalam satu arahannya, tidak pula ia didera kantuk dengan penuhnya semangat miliknya menebar, namun itu sempat kubalikkan bukan gambaran untuk semuanya, kantuk dan kebosanan memilih tempatnya mengalir sendiri, tak ubahnya ingus juga tidak menetes ke atas, ia tetap menghampiri dengan caranya...
bila saja mimpi terhitumg sabagai banyaknya permainan yang tiada kunjung henti, akankah pelarian baru membersihkan setiap kepekatan yang memberatkan langkah kakinya yang enggan berhenti dari saat terbaiknya, diujung kemenangan... yang telah menyemukan ....
hampa dan sepi tiada laku dan nada terdengar lagi ada pinta kecil penutup maya mengangkat rentetan suara kedalaman ..... dalam senyuman kecil, ia kembali menarikan jari-jarinya, andai sempat ia tahu betapa caranya telah memelekkan banyak mata pengagum....
Keadaan yang berbeda
Tidak seperti bedamu dan bedaku
Ini adalah yang telah membawa seisi ruang gagas...
Ambruk tidak lagi sebatas condong
Namun lebur ditengah kemana ceburan membawa dalam alur riuh gemuruh tak kunjung menentu
Semua yang telah berada tampak terus memilih dan memilih, dengan menghimpit juga menjinjing bermacam rupa terbaik; tidak kurang yang baru datang pun turut hal yang sama
Di bagian lain yang juga tak henti, sebenarnya dipenuhi keringat senyuman tatkala melihat mereka yang terus berdatangan untuk mengantri disambut dan dilayani....
Mereka yang tidak lagi terus mencari, mereka yang terus didatangi para pencari, untuk sampai padanya guna bertanya dan memberi banyak arti....
Siapa yang tidak mengerti, akan keletihan yang dilahirkan oleh pelaku suasana itu, ada di tempat yang berlainan, kelak juga bisa jadi bagian langkahnya, kecuali dia yang telah jauh lebih dulu mengalami hal serupa dalam jamak rupa cara.
Seperti rupa harga yang telah lama dipertaruhkan dalam setiap barang disepanjang hingga sudut gerai bahkan sampai perkantoran dan hunian dambaanππ π’ππ
Selang beberapa menit, nada panggilan diarak gelombang menuju pranala miliknya sendiri
Belahan berharga jauh mendekatkan kisah cinta dan patriotik ke ketelinga kecil ... terdengar suara ajakan teman untuk rehat... menuju tempat bermainnya imaginasi bocah kecil
Kami seketika terangkat memasuki kesadaran, kereta berlagu itu menari hanya dengan satu dua koin yang dimasukkan, sebagai pemantik tanpa tombol bertulis harga yang harus dibayar bos pendamping dan nyonya besar ;
Akan jarak tempuh, luput dari keinginan pemilik dan pemakai menempatkan terpentingnya eja,
Diriku melihat...
Dirimu melihat...
Mereka pun tahu.
Tempuh kendaraan itu bukan pada sebuah tempat baru, wahana itu menarik ruang pemikiran dan membangun bentuk kenangan akan ia yang ditempatkan,
Yang masih sangat jauh, siapa yang akan membawa kita ke sana , kedewasaan telah menemukan ruang baginya,
Sejatinya semua telah tersedia diawal, selain kita punya tenaga, menyatukan tekat dan langkah yang cuma dibilang omong kosong,
Pada waktunya mereka yang tidak menyadari dirinya sebagai penghisap sumberdaya, dan pembangun narasi pelemah tiada lebih dari kenampakkannya juga serupa sapi ompong, tidak ada lagi... kawat-kawat bekel berlapis emas hingga berlian yang murni melekat pada gigi-gigi miliknya#π
"Ini aja ...? Kasir memastikan sambil memegang sebungkus agar kepada pelanggan di depannya.
"Ya.. itu aja, yang tidak perlu dikunyah...? Pelanggan tua itu tertawa dan lalu menutup mulutnya. Disusul pula senyum dan ketawa kecil kasir manis dan pelanggan yang lain.
Dia bertanya pada kekasihnya
Sepeda disandarkannya buat mendengar
Kamu tahu itu, jawaban dinantinya
Mencoret enam item belanja
Bertanya lagi ia dengan mengulang;
Adakah perasaanmu berubah dipenghujung tahun ini?
Kurang buat itu semua jawaban
Tuangkanlah ditempat yang kau suka
Itu akan akan sangat berarti
Betarti untuk banyak keputusan lain yang lebih baik
Ia mengerti kualitas dambaannya bukan didapat dengan berdiam...
Seperti cinta yang dihidupi buat kekasih yang lama dinantinya ..
Kasir cantik tersenyum,
Mengerti akan peristiwa yang berlangsung, bukan di mesin transaksinya...
Dengan pucuk-pucuk daun teh yang kini telah mewarna dan mengharumkan cangkir mungil,
Tersenyum mengeja tanyamu untuk kesekian kali tanyamu masih menggelitik hati,
Tentang apa yang akan engkau bawa sebagai buah tangan Dan tanda cinta,
Walau tiada terbukanya tanyamu langsung dari ujung ke ujung kisah yang kau bagikan waktu itu,
Meniti mata hingga ke hati tanpa berlari menggapai maksud dan pengertian sebagai lemparan terjauh menautkan pilihan,
Tidak perlu memberatkan dengan menyelipkan buku tebal yang kau ceritakan meskipun banyak berisi kejutan tentang kisah dari karya-karya monumental tempat itu....,
Tidak usah menambah beban bawaan dengan memborong koleksi boneka-boneka cantik dari tempat yang jauh itu,
Jangan pula membelanjakan segala macam pakaian seksi yang akan membuat berat karena berbagai alat tak mungkin kau serahkan begitu saja kepada setiap kerabat atau teman dekat saat mereka pun kini sedang harus cepat merapat,
Meniti mata hingga ke hati tanpa berlari menggapai maksud dan pengertian sebagai lemparan terjauh menautkan pilihan,
Tidak perlu memberatkan dengan menyelipkan buku tebal yang kau ceritakan meskipun banyak berisi kejutan tentang kisah dari karya-karya monumental tempat itu....,
Tidak usah menambah beban bawaan dengan memborong koleksi boneka-boneka cantik dari tempat yang jauh itu,
Jangan pula membelanjakan segala macam pakaian seksi yang akan membuat berat karena berbagai alat tak mungkin kau serahkan begitu saja kepada setiap kerabat atau teman dekat saat mereka pun kini sedang harus cepat merapat,
Lalu yang kupinta buatmu tiada lain adalah kelancaranmu hingga sampai sesuai rencana, begitu saja sementara jika ingin tahu saat ini akan apa yang kuharap...
Duduk sesaat usai lewati
Muda mudi ramai berbaris
Gigi tetap , permen karet
Setengah empat itu belum gelap
CapeA, k spontan jadi tersadar
Jam mengingatkan sepesan menu
Agar malam tetap. Terisi..
Lalu mengapa
Kau berikan minuman sekental dahak yang katamu bisa usir haus, ogah!
Memandangnya tidak ubahnya melihat semburan liur ^O^
Harga sudah dipandang pas
Tekstur yang telah mencuat pada masa seperti ini bagi setiap mata bertatap telah semakin mengundang giur.... Bagian terkeras telah tercerabut sebagian demi sebagian sampai tiada luput yang terhalus pun telah turut, ketika pilihan menarik dirinya telah tiba memasuki dalamnya rimba hati tanpa nafsu dan bara akan menyulut, membiarkan dinginya setiap kedatangan hembusan menggerayangi seluruh permukaan tiada sekat kecuali sisa halusnya bulu tanpa arti lagi menyelimuti setiap bagian tubuhnya....
Seolah seutuhnya telah lembut dan memudah untuk dipagut memenuhkan ronta lambung liar menyanyi girang memandang termudahnya menggapai mangsa, kenyal dan manis gurihnya akan tambahan sinyal amisnya telah semudah digapai tanpa perlawanan tatkala ujung tertajam pagaran dirinya telah dipatahkan lewat waktu yang telah lama mengajar dalam pelarian panjangnya, tiada yang dapat dia tunggangi untuk berlari kecuali ranting terjauh menurut dirinya sebagai jurus tersisa ruang sembunyi tanpa mampu mengerti perubahan yang akan terjadi lagi....
Apa yang dapat dirasa kini tiada lagi sama, jangkau pemandangan tiada daya berbanding dengan penguasa waskita langit berpranala semakin tanpa batas mengenduskan telisik disemua sudut rimba sunyi ini, semua seolah tetap berada disana diam bersamanya, ruang menyempitkan geraknya mendapatkan apa pun yang tergapai gerakan kecil sebatas membasahi permukaan dan ruang cernanya,
Semua keutuhan bentuk tidak muncul seketika, ia telah lampaui kesekian kali untuk dirinya juga pendahulunya tanpa memanjangkan risau diri juga dambanya seluruh penghuni, tanpa mengerti keadaan demikian kecuali ketika ia telah kembali pada...
...
Ketika pertanda kehidupan masih mengelilingi, apa yang baginya merisaukan karena lewati arus tanpa hitungan barisan yang membangkai telah pula membuatnya tetap bertahan,.. memandang segala bergantinya pemburu jaman penuh pemutakhiran kini ia yang dipertanyakan keadaan setelah menghilangnya warna legam dirinya sebagai tameng lintas setiap savana dan sangar belukar hingga rawa-rawa .... salah satu sudut rentang perantauannya tempatnya menggali sangat dalam menyimpan amarahnya terbesar dengan telah diremukkan dalam kepingan-kepingan terkecil terangkut sebagai rapatnya muatan ditumbuhi jubalan muslihat para pembawa berlumur kuat tameng lumpur yang telah mengeras, ini tiada dalam duganya terendus atas nama kebetulan ..
Olahan pengalih tidak membuatnya berpaling dari kenyataan itu, ia memilih tanpa sepatah kata menghempaskan diri meninggi semakin jauh merasakan lengkap tumbuhnya kelebatan setiap jengkal lahan yang telah terwariskan dinampakkan kembali ketika ia membuka mata pada letak tertingginya kepakan sepasang kebanggaan miliknya dapat berada sebagaimana ia tetap memiliki arti keperkasaan yang telah disematkan.
