Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About

 


​Ada perjumpaan yang tidak dimulai dari tatap mata, bukan pula dari jabat tangan yang hangat. Terkadang, takdir memperkenalkan dirinya lewat cara yang jauh lebih sunyi, namun anehnya langsung menghunjam ke dalam ingatan: sebuah perjumpaan dengan sebuah nama.

​Nama itu hadir tanpa permisi. Mungkin ia hanya tertera di sudut secarik kertas, melintas di layar gawai, atau tak sengaja terucap dalam sebuah obrolan yang santai. Pada awalnya, ia hanyalah deretan huruf biasa, sama seperti ribuan kata lain dalam kamus. Namun, ada getaran tak kasat mata yang tertinggal di sana. Sebuah kesan ganjil yang membuat langkah kita mendadak terhenti, seolah ego kita dipaksa tunduk untuk mengeja ulang setiap suku katanya.

​Mengeja nama itu seperti membuka gerbang menuju sebuah dunia yang belum pernah kita masuki. Kita belum tahu bagaimana rupa pemiliknya, bagaimana nada suaranya saat tertawa, atau bagaimana tatapan matanya saat memandang dunia. Namun, nama itu sendiri sudah membawa atmosfernya sendiri—membawa kehangatan, ketenangan, atau mungkin sebuah misteri yang memanggil-manggil untuk dipecahkan.

​Di sinilah sentuhan tak kasat mata itu bekerja. Nama tersebut berhenti menjadi sekadar identitas. Ia berubah menjadi sebuah ruang tunggu bagi rasa penasaran, sebuah jembatan batin yang mendahului raga. Kita dibuat menyadari bahwa sebelum dua manusia benar-benar saling menemukan dalam ruang dan waktu, jiwa mereka sering kali sudah saling menyapa lewat getaran nama yang tertangkap oleh intuisi.

​Pada akhirnya, kesan pertama yang paling jujur tidak selalu lahir dari apa yang ditangkap oleh indra penglihatan. Ada kalanya, hati sudah tahu lebih dulu ke mana ia harus menaruh perhatian, bahkan hanya dari sebaris nama yang berbisik lirih di bawah sentuhan yang tak kasat mata.

Kini, dalam senyap yang merambat, terbitlah sebait tanya yang getarnya tak kasat mata. Adakah semua rasa yang terjalin dalam bait-bait ini juga berdesir halus di dinding hatimu? Biarlah waktu dan semesta, lewat cara-caranya yang paling puitis dan tak terduga, menjadi penerjemah bagi kedua rindu yang mungkin tengah saling mencari, meski masih dipisahkan oleh tabir ketidaktahuan. Pasti ada cara untuk memahaminya.


Setiap ada yang mendekat
Selalu ada jawaban
Bahkan ketika belum sempat
Orang kasih pertanyaan

Ketika ada yang kebetulan
Sempat kepadanya bertanya
Seolah tiada yang berkaitan
Sebagai bagian dari jawabannya

Pokoknya terbanyak dibilang
Sebagai kata yang terus diulang
Mata demi mata saling berpandang
Buah apriori telah jadi pengenyang

Polos dan aneka corak jadi pilihan
Motif buatan tangan mencantikkan
Ditimang bahan yang berdatangan
Keras pun tampak punya kelembutan
Ketika menyatu dalam satu tumpukan;

Surya tenggelam... 
Gerimis datang;
Bersama angin... 
Mendinginkan malam;
Terlukis ia dalam terindahnya senyuman. 
🤠

Lagi Fresh: intan kali ....: ruam wajahmu ingin kunamai macam langit itu aneka semburat penghias hal tak penting andai bisa bunyi raba jauh inti suaramu alih-alih menya...
---

Gema di Ruang Sepi

​Aku bukan siapa-siapa,

Bukan nama yang terpahat di batu nisan megah,

Bukan pula sorai yang memenuhi riuh perayaan.

Aku hanyalah helai napas yang tertinggal,

Atau jejak kaki yang lekas dihapus ombak pagi.

​Namun, di antara riuh dunia yang melelahkan,

Aku memilih menjadi sesuatu yang paling sunyi:

Sebuah suara kecil di hatimu.

​Aku adalah jeda di tengah bimbangmu,

Ketukan lembut saat kau hampir menutup pintu,

Dan kehangatan yang menjalar pelan,

Saat dunia terasa begitu dingin dan asing.

​Jangan cari aku di keramaian mata,

Sebab aku menetap di balik rusukmu.

Menjagamu tetap terjaga,

Menemanimu saat semua orang telah melupa.

​Aku bukan siapa-siapa,

Kecuali doa yang kau sebut tanpa suara,

Dan cinta yang tak butuh tanda sebagai yang terhormat, terbaik dan ' ter-ter ' lainya.







Amuk bilah-bilah tanpa tuan
melayangkan galaunya jurus-jurus
henti menghunuskan kekuatan kepadanya....
Yang bertandang tanpa memandang siang bolong

Kerumun jangkar-jangkar jauh berlabuh mengitari
Henti menerawang memisah disetiap penhujung jarak pandang
Kesempurnaan akankah menjadi ramalan pelantun
Setiap bait punjangga yang sudah sangat usang....
Dibungkus membatunya jaman mengeras 
pada setiap pijakan langkahnya.....


ia seperti membuat kehilinganmu..
tanpa melirik lagi kelianganmu.....
memasangkan nyanyian cinta semu
ditangisi daun-daun yang berhenti berharap
mengugurkan niatnya menjaga keteduhan
biarlah umur yang bicara semua tanpa kilau senjata itu lagi

Sangat mengerikan kemunculannya.....

apatah yang menjadi inti pintanya .....

Tak pula ada yang bicara agar semua mengerti .....
keadaan bisa mengubah kita 
ia biasa membuat kita mundur 
ia pun menjadikan kita semakin berdaya 

kita butuh cara 
kita butuh tenaga 
kita butuh ketrampilan 

hingga tahu cara 
untuk merasakan 
lalu menanggapi 
hingga bertindak 
lebih produktif

menghadapi makanan 
juga tak jauh beda 
memandang menghirup 
hingga menikmatinya
#####



Menjadi siapa ...

Atau 

Untuk siapa....

Dalam sendiri wajah itu 

Membiarkan dirinya larut 

Suasana itu bukan miliknya 

Mungkin juga bukan milikku 

Kesana dan tidak berpikir 

Akan dua penanya yang mengawal 

Ia yang diselimuti warna seragam berkabut

Atau ia yang membagi kerenyahan suara 

Mendekat seolah sebagai penyambut 

Pun telah mengarahkan wajah tanpa cemberut 

Seakan telah dengan semua tubuh dan pandangan bersama telah menaut 

Sebagaimana gaung pengarah punya debut, seolah-olah runtut hingga semua seturut..

Hanya ia yang masih menyisa, akan bedanya kisah baru, sebuah babak lain jauh dari budi dan fantasi arus dan gelombang informasi yang mengalir di setiap sudut ruang pendatang...

Manis cerita dalam bara dan terik, baur melebur, bukan derita telah turut mencebur,

Menjadi pengalas lukisan penghias, pelengkap dirapatkan mencampur kebaruan bungkus menyekat setiap arang yang telah berubah warna kian cerah...

Ia kemari, bukan untuk dihindari ;

Ia sampaikan banyak hal bukan kebetulan,

Ia telah meluangkan...

Banyak hal dan segala macam kepentingan,

Katanya tidak terlalu penting saat ini untuk dipikirkan, perjumpaan ini sudah cukup berarti menjadi sebuah balasan, menghantar pada terindahnya keadaan...







Lewat tengah hari, usai mengisi perut dengan berjalan santai aku akan kembali ke kantor.  Kulihat seorang wanita berumur berjalan agak berat menuju ke sebuah halte.

"Selamat siang, Bu" kuhampiri dari belakang menuju sampingnya.

"Oh.. ngagetin nenek aja, udah! Nenek udah makan siang baru aja, sepertinya tidak jauh dari mejamu" dengan ramah ia menjawab.

"Nenek ini mau ke halte, atau mau belanja? Ke halte depan itu ya? " aku mencoba buka obrolan dengam beliau.

"Oh... nggak kok nak, nenek cuma mau ke halte itu!" Nenek itu menegaskan arahnya, sementara seorang pemuda yang berjalan tidak jauh di depan kita menoleh kebelakang.

"Itu cucu nenek, kami berangkat bareng tapi mama-papanya lagi ketemu partnernya di sana tadi, jadi dia nganter nenek mau ketemu teman lama, kira-kira lima menitan naik bus dari sini. Kalau kamu mau kemana nak?" semakin ramah nenek ini ternyata suka ngobrol.

"Saya mau kembali ke kantor Nek, ini cuma istirahat makan siang" kujawab dengan tetap tangannya membiarkan menggandeng tanganku.

"Dulu mama dia saya ajari untuk sering bawa bekal sendiri, biar hemat juga sehat; kamu gak tertarik untuk coba begitu? Tampak keibuan ia memberi nasehat tidak langsung kepadaku juga.

"Biasanya juga begitu, Nek; Cuma tadi bangunnya kesiangan" jawabku sambil tertawa juga menghargai idenya.

Sang cucu tampak tidak sabar berjalan dengan neneknya yang lambat, dengan sekali-kali menoleh ke belakang."Dia memang begitu kalau suruh nganter nenek, sering gak sabaran" komentar nenek yang melirik ekspresi cucunya.

"Trimakasih sudah nemenin nenek jalan ya, ini udah sampai!" sapanya ketika sudah sampai halte.

"Sama-sama nek, sekalian jalan kok Nek, say masih kira-kira lima puluh meter lagi, Ne, bye Nek...!"

Kami berpisah dan sang cucu sempat memberikan sedikit seenyum tanpa sepatah kata pun.

💁

...