Popular Posts
-
Yang ...harapan tetap ada Kelak engkau datang lagi Sebagaimana Engkau adanya Karena Engkau yang paling diminati Salah tidak untuk dicari ...
-
Tidak menarik sore itu Dibubuhkan sebuah nama Yang mengarti pada kegagalan Apalagi kegagalan total perburuan Total ditempuh dengan menge...
-
Butuh pengalaman Melihat seperti rasa itu Mencari bentuk yang kelihatan Menggali bahkan yang tidak terjangkau tangan Menemukan yang tidak ...
-
Menjadi siapa ... Atau Untuk siapa.... Dalam sendiri wajah itu Membiarkan dirinya larut Suasana itu bukan miliknya Mungkin juga bukan mi...
-
👫👪👨👯👭 ia katakan dengan sedikit malu apa adanya yang ada apa yang sesungguhnya ia pahami sesekali ia menyela menyeruput tehnya lalu mel...
-
ia diam di sana berdiri di tempat itu tertegun tanpa berucap melihat tingginya pertanda bilangan atau pertanda yang menjulang sesekali ram...
-
menangani berbagai urusan kotor cerita setelah dipakai lebih sering daripada kebalikannya cerita sebelum dipakai walau tetap sama pada renta...
-
Gerakannya selembut aliran angin Sore itu .... Bila dipandangi air sekitar Dan juga yang dulalui Enggan mereka beriak.... Hingga lompatan...
-
Rasanya ingin menemukan Jurus abrakadabra Saat menemukan data yang belum dapat tercerna logika ... Bila kenormalan sebuah grafik hanya g...
-
Aku manusia biasa Jangan sembarangan jika engkau akan menceburkan kedalam samudra luas.... Dengan kedalaman dan ombak dasyat Aku bukan manu...
Blogger templates
Blogroll
About
Ada perjumpaan yang tidak dimulai dari tatap mata, bukan pula dari jabat tangan yang hangat. Terkadang, takdir memperkenalkan dirinya lewat cara yang jauh lebih sunyi, namun anehnya langsung menghunjam ke dalam ingatan: sebuah perjumpaan dengan sebuah nama.
Nama itu hadir tanpa permisi. Mungkin ia hanya tertera di sudut secarik kertas, melintas di layar gawai, atau tak sengaja terucap dalam sebuah obrolan yang santai. Pada awalnya, ia hanyalah deretan huruf biasa, sama seperti ribuan kata lain dalam kamus. Namun, ada getaran tak kasat mata yang tertinggal di sana. Sebuah kesan ganjil yang membuat langkah kita mendadak terhenti, seolah ego kita dipaksa tunduk untuk mengeja ulang setiap suku katanya.
Mengeja nama itu seperti membuka gerbang menuju sebuah dunia yang belum pernah kita masuki. Kita belum tahu bagaimana rupa pemiliknya, bagaimana nada suaranya saat tertawa, atau bagaimana tatapan matanya saat memandang dunia. Namun, nama itu sendiri sudah membawa atmosfernya sendiri—membawa kehangatan, ketenangan, atau mungkin sebuah misteri yang memanggil-manggil untuk dipecahkan.
Di sinilah sentuhan tak kasat mata itu bekerja. Nama tersebut berhenti menjadi sekadar identitas. Ia berubah menjadi sebuah ruang tunggu bagi rasa penasaran, sebuah jembatan batin yang mendahului raga. Kita dibuat menyadari bahwa sebelum dua manusia benar-benar saling menemukan dalam ruang dan waktu, jiwa mereka sering kali sudah saling menyapa lewat getaran nama yang tertangkap oleh intuisi.
Pada akhirnya, kesan pertama yang paling jujur tidak selalu lahir dari apa yang ditangkap oleh indra penglihatan. Ada kalanya, hati sudah tahu lebih dulu ke mana ia harus menaruh perhatian, bahkan hanya dari sebaris nama yang berbisik lirih di bawah sentuhan yang tak kasat mata.
Kini, dalam senyap yang merambat, terbitlah sebait tanya yang getarnya tak kasat mata. Adakah semua rasa yang terjalin dalam bait-bait ini juga berdesir halus di dinding hatimu? Biarlah waktu dan semesta, lewat cara-caranya yang paling puitis dan tak terduga, menjadi penerjemah bagi kedua rindu yang mungkin tengah saling mencari, meski masih dipisahkan oleh tabir ketidaktahuan. Pasti ada cara untuk memahaminya.
Gema di Ruang Sepi
Aku bukan siapa-siapa,
Bukan nama yang terpahat di batu nisan megah,
Bukan pula sorai yang memenuhi riuh perayaan.
Aku hanyalah helai napas yang tertinggal,
Atau jejak kaki yang lekas dihapus ombak pagi.
Namun, di antara riuh dunia yang melelahkan,
Aku memilih menjadi sesuatu yang paling sunyi:
Sebuah suara kecil di hatimu.
Aku adalah jeda di tengah bimbangmu,
Ketukan lembut saat kau hampir menutup pintu,
Dan kehangatan yang menjalar pelan,
Saat dunia terasa begitu dingin dan asing.
Jangan cari aku di keramaian mata,
Sebab aku menetap di balik rusukmu.
Menjagamu tetap terjaga,
Menemanimu saat semua orang telah melupa.
Aku bukan siapa-siapa,
Kecuali doa yang kau sebut tanpa suara,
Dan cinta yang tak butuh tanda sebagai yang terhormat, terbaik dan ' ter-ter ' lainya.
Menjadi siapa ...
Atau
Untuk siapa....
Dalam sendiri wajah itu
Membiarkan dirinya larut
Suasana itu bukan miliknya
Mungkin juga bukan milikku
Kesana dan tidak berpikir
Akan dua penanya yang mengawal
Ia yang diselimuti warna seragam berkabut
Atau ia yang membagi kerenyahan suara
Mendekat seolah sebagai penyambut
Pun telah mengarahkan wajah tanpa cemberut
Seakan telah dengan semua tubuh dan pandangan bersama telah menaut
Sebagaimana gaung pengarah punya debut, seolah-olah runtut hingga semua seturut..
Hanya ia yang masih menyisa, akan bedanya kisah baru, sebuah babak lain jauh dari budi dan fantasi arus dan gelombang informasi yang mengalir di setiap sudut ruang pendatang...
Manis cerita dalam bara dan terik, baur melebur, bukan derita telah turut mencebur,
Menjadi pengalas lukisan penghias, pelengkap dirapatkan mencampur kebaruan bungkus menyekat setiap arang yang telah berubah warna kian cerah...
Ia kemari, bukan untuk dihindari ;
Ia sampaikan banyak hal bukan kebetulan,
Ia telah meluangkan...
Banyak hal dan segala macam kepentingan,
Katanya tidak terlalu penting saat ini untuk dipikirkan, perjumpaan ini sudah cukup berarti menjadi sebuah balasan, menghantar pada terindahnya keadaan...
Lewat tengah hari, usai mengisi perut dengan berjalan santai aku akan kembali ke kantor. Kulihat seorang wanita berumur berjalan agak berat menuju ke sebuah halte.
"Selamat siang, Bu" kuhampiri dari belakang menuju sampingnya.
"Oh.. ngagetin nenek aja, udah! Nenek udah makan siang baru aja, sepertinya tidak jauh dari mejamu" dengan ramah ia menjawab.
"Nenek ini mau ke halte, atau mau belanja? Ke halte depan itu ya? " aku mencoba buka obrolan dengam beliau.
"Oh... nggak kok nak, nenek cuma mau ke halte itu!" Nenek itu menegaskan arahnya, sementara seorang pemuda yang berjalan tidak jauh di depan kita menoleh kebelakang.
"Itu cucu nenek, kami berangkat bareng tapi mama-papanya lagi ketemu partnernya di sana tadi, jadi dia nganter nenek mau ketemu teman lama, kira-kira lima menitan naik bus dari sini. Kalau kamu mau kemana nak?" semakin ramah nenek ini ternyata suka ngobrol.
"Saya mau kembali ke kantor Nek, ini cuma istirahat makan siang" kujawab dengan tetap tangannya membiarkan menggandeng tanganku.
"Dulu mama dia saya ajari untuk sering bawa bekal sendiri, biar hemat juga sehat; kamu gak tertarik untuk coba begitu? Tampak keibuan ia memberi nasehat tidak langsung kepadaku juga.
"Biasanya juga begitu, Nek; Cuma tadi bangunnya kesiangan" jawabku sambil tertawa juga menghargai idenya.
Sang cucu tampak tidak sabar berjalan dengan neneknya yang lambat, dengan sekali-kali menoleh ke belakang."Dia memang begitu kalau suruh nganter nenek, sering gak sabaran" komentar nenek yang melirik ekspresi cucunya.
"Trimakasih sudah nemenin nenek jalan ya, ini udah sampai!" sapanya ketika sudah sampai halte.
"Sama-sama nek, sekalian jalan kok Nek, say masih kira-kira lima puluh meter lagi, Ne, bye Nek...!"
Kami berpisah dan sang cucu sempat memberikan sedikit seenyum tanpa sepatah kata pun.
💁
...
